Connect with us

Hukum & Kriminal

Kades Tamansari Diduga Gelapkan DD, Dilaporkan ke Tipikor Polres Jember

Diterbitkan

||

Dian didampingi kuasa hukumnya di Mapolres Jember usai melapor. (Tog)
Dian didampingi kuasa hukumnya di Mapolres Jember usai melapor. (Tog)

Memontum, Jember – Pelaksana Kegiatan (PK) Desa Tamasari, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Dian Lokha dengan didampingi kuasa hukumnya Indra Nasution SH, Rabu (13/5/2020) siang, melaporkan Sugianto Kepala desa Tamansari ke Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kepolian Resort Jember.

Sugianto dilaporkan atas dugaan penggelapan Dana Desa (DD) sebesar Rp 107.317271 anggaran tahun 2019 yang diperuntukkan sebagai anggaran pembangunan proyek yang ada di tiga titik di wilayah Desa Tamansari yang dilakukan bersama Abdul Muhid Tim pelaksana kerja (TPK) proyek.

“Modus operandi yang dilakukan Kades bersama Oknum TPK dalam melakukan penggelapan DD yakni memanipulasi Data dengan cara meMark Up dan melakukan suatu tindakan pemalsuan, ” ungkap Indra Nasution kuasa hukum Dian.

“Kami datang ke Tipikor Polres Jember agar permasalahan ini segera di tindak lanjuti pada prinsipnya kita hanya mengawal saja, ” imbuhnya.

Sementara itu Dian Lokha mengatakan seharusnya pihaknya selaku PK yang berperan didalam Proyek sesuai prosedur keuangan yang ditentukan dalam Juklak dan Juknis, akan tetapi Proyek tersebut dikelola oleh kepala desa sendiri.

“Pak Kades meminta semua uang anggaran proyek yang saya terima dari bendahara,” ucap Dian di halaman Polres Jember usai melaporkan.

Dian menerangkan, namun dalam pelaksanaan proyek anggaran atau dana dipakai (gelapkan) untuk kepentingan pribadi Kepala Desa (Kades) semestinya anggaran dipergunakan untuk proyek pembangunan drainase yang ada di tiga titik.

“Modusnya dalam melakukan penggelapan yakni memalsukan data, data disesuaikan dengan RAB, dalam RAB dilaporkan gaji pekerja sebesar Rp 78.900 ribu, namum pada faktanya pekerja hanya dibayar sebesar 40.000 ribu,” jelas Dian.

Selain itu perihal jumlah hari bekerja jelas Dian, di Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) tertulis pekerjaan dilakukan 28 hari, faktanya hanya dikerjakan 21 hari dan lampiran KTP yang dimasukkan ke LPJ sebagian fiktif (tidak ada orangnya) sehingga menyebabkan banyaknya data pekerja namun faktanya tidak.

“Di proyek pembangunan saluran Drainase yang ada di dusun Gondosari, Riilnya jumlah pekerja ada 12 orang namun di LPJ dimasukkan 54 pekerja, ada kelebihan 42 pekerja yang fiktif dan banyak lagi yang mark up yang bisa disebut satu persatu, ” pungkasnya. (tog/yud/oso)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Pulang Antar Jenazah, Iring-iringan Mobil Polisi Laka Beruntun

Diterbitkan

||

Mobil polisi yang mengalami Laka beruntun di depan PT Boss Image Nusantara Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kamis (6/8/2020) dini hari
Mobil polisi yang mengalami Laka beruntun di depan PT Boss Image Nusantara Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kamis (6/8/2020) dini hari

Memontum Jember – Iring-iringan mobil Polres Jember selepas mengantar jenazah dari Desa Karangbayat, Kecamatan Sumberbaru, mengalami kecelakaan (Laka) beruntun di Jalan umum Jurusan Jember – Surabaya, tepatnya depan PT Boss Image Nusantara Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kamis (6/8/2020) dini hari.

Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 02.45 WIB itu, diakibatkan karena mobil Toyota Kijang Inova abu-abu metalik berplat P 1821 GI melaju dari Jember menuju Surabaya dengan zig-zag. Diduga pengemudi mobil dalam kondisi mabuk atau mengantuk sehingga menyebabkan terjadinya kecelakaan. Sesampainya dilokasi kejadian, iring-iringan mobil yang terdiri dari sedan mobil pengawalan Polres, mobil truk dinas Polres Jember, mobil Patroli Strada Tim Alap – alap Sat Sabhara Polres Jember, mobil dinas Toyota Avanza Sat Intelkam Polres Jember, dan mobil ambulans milik RSD dr. Soebandi melaju dari arah barat ke timur.

“Mobil iring-iringan polisi itu bermaksud akan kembali ke Mako Polres, pulang dari Desa Karangbayat. Sesampainya di lokasi kejadian, mobil inova itu melaju zig-zag, diduga sopir mengantuk atau mungkin mabuk,” kata Kasatlantas Polres Jember AKP Ardi Wibowo.

Karena melaju tidak terkendali dan kencang, mobil Toyota Inova itu pun oleng ke kanan, kemudian menabrak bodi belakang truk Dinas Polres Jember yang mengangkut belasan anggota polisi. Bahkan hingga truk terbalik. Karena terbalik, iring-iringan mobil di belakangnya tidak bisa menghindar dan menabrak truk tersebut. Sehingga terjadi kecelakaan beruntun. Sedangkan mobil Toyota Inova yang identitas pengemudinya belum diketahui itu hilang kendali, dan baru berhenti setelah adu moncong depan mobil ambulans milik RSD dr. Soebandi.

Akibat kecelakaan itu, 3 anggota polisi Sat Sabhara Polres Jember yang berada di dalam truk, pengemudi mobil Toyota Inova, dan Sopir Ambulans mengalami luka cukup serius. Sehingga langsung dibawa ke Rumah Sakit Kaliwates yang terdekat dengan lokasi kejadian. Untuk kemudian mendapat perawatan intensif di rumah sakit.

Terkait musibah kecelakaan itu, polisi akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kondisi pengemudi mobil Toyota Inova. Pantauan di lokasi kejadian, secara bergantian bangkai mobil truk polisi, mobil Toyota Inova, dan mobil ambulans RSD dr. Soebandi dievakuasi mobil derek Satlantas Polres Jember. Proses evakuasi membutuhkan waktu lebih dari 2 jam, dan arus lalu lintas di lokasi kejadian diberlakukan aturan buka tutup arus kendaraan. Agar tidak mengganggu proses evakuasi. (ark/tog/mzm)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Mantan Kadisperindag Jember Dituntut Jaksa Paling Ringan

Diterbitkan

||

Mantan Kadisperindag Jember Dituntut Jaksa Paling Ringan

Memontum Jember – Sidang perkara korupsi revitalisasi Pasar Manggisan memasuki tahap tuntutan. Dalam sidang yang digelar di PN Tipikor Sidoarjo, Selasa malam (4/8/2020), Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Jember menuntut hukuman 4,5 tahun kepada mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember, Anas Maruf.

Selain itu Anas juga tidak dituntut untuk mengembalikan kerugian negara dalam kasus ini. Sebab, dalam fakta persidangan sebelumnya, Anas dianggap tidak terbukti menerima aliran uang hasil rasuah. Tuntutan terhadap Anas ini menjadi yang paling ringan dibandingkan tiga terdakwa lain. Tiga terdakwa lain yang semuanya dari rekanan proyek, dituntut hukuman 7 tahun 6 bulan penjara. Mereka juga diharuskan mengembalikan kerugian negara, dengan nilai yang bervariasi.

Terdakwa Edhi Sandhi sebagai pelaksana proyek, dituntut mengembalikan kerugian negara sebesar Rp 1,181 Miliar, subsidair 1 tahun 6 bulan kurungan. Sugeng Irawan Widodo alias Dodik, yang merupakan konsultan perencana, dituntut mengembalikan kerugian negara sebesar Rp 90.238.257,-. Namun, tuntutan peggantian kerugian negara itu dilakukan secara tanggung renteng dengan anak buah Dodik, yakni Muhammad Fariz Nurhidayat.

Terdakwa Fariz sejak awal menjadi terdakwa yang banyak menyita perhatian publik Jember, karena mengajukan permohonan Justice Collaborator (JC) atau pelaku yang bekerjasama. Permohonan itu dilayangkan Fariz kepada LPSK karena kepada tim angket DPRD Jember, Fariz menyebut ada aliran dana kepada bupati Jember, dr Faida pada sejumlah proyek. Tetapi Faida telah secara tegas membantah pernyataan Fariz itu.

Sementara itu, meskipun mendapat tuntutan paling ringan, pengacara Anas Maruf tetap menyatakan keberatan atas dakwaan jaksa tersebut.

“Selain karena tidak ikut menikmati uang korupsi, Pak Anas juga hanya menjalankan tugasnya sesuai aturan,” beber Mohammad Nuril, pengacara Anas Maruf.

Sebelumnya, Anas didakwa memperkaya orang lain karena melakukan pembayaran proyek sebesar 54 persen dalam dua termin, kepada kontraktor. Padahal, hingga kini proyek Pasar Manggisan masih mangkrak.

“Pembayaran sebesar 54 persen itu berdasarkan perhitungan dari konsultan perencana, bukan perhitungan Pak Anas sendiri,” lanjut Nuril.

Terkait rangkap jabatan yang disorot selama persidangan. Yakni sebagai Pengguna Anggaran (PA) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Persoalan itu menurut Nuril tidak aturan yang dilanggar.

“Soal dia rangkap jabatan, itu adalah persoalan administrasi yang dibolehkan dalam Perpres 70 tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa. Dia hanya menjalankan tugas profesional,” kata Nuril.

Anas juga menjadi satu-satunya pejabat Pemkab Jember yang diseret dalam kasus ini. “Semestinya ada pertanggungjawaban berjenjang terhadap jajaran Pemkab Jember dalam kasus korupsi proyek revitalisasi pasar tradisional ini. Karena pertanggungjawaban itu berjenjang. Sebenarnya ini bisa diselesaikan secara administrasi saja,” kata Nuril.

Sidang akan dilanjutkan pada dua pekan lagi, dengan agenda pembelaan dari masing-masing terdakwa. (vin/mzm)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Wanita Bakar Diri di Jember Meningggal Saat Perawatan di RS

Diterbitkan

||

Kondisi korban saat akan dibawa ke RS
Kondisi korban saat akan dibawa ke RS

Memontum Jember – Nurhayati (28), wanita yang melakukan aksi bakar diri di dalam rumah, meninggal saat masih dirawat di RS Bina Sehat Jember, Senin (3/8/2020). Wanita warga Dusun Krajan, Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan ini nekat membakar dirinya sendiri, setelah bertengkar dengan ibunya sendiri. Informasi itu disampaikan oleh saksi Denok (25) yang juga teman korban saat berada di lokasi kejadian.

“Korban meninggal saat dirawat di rumah sakit, setelah mendapat perawatan selama kurang lebih dua hari,” kata KBO Satreskrim Polres Jember, Iptu S. Arief saat dikonfirmasi wartawan di Mapolres, Selasa (4/8/2020).

Iptu Arief menjelaskan, korban meninggal sekitar pukul 23.00 WIB, Senin (3/8/2020) kemarin. “Padahal sebelumnya korban akan dirujuk ke RSD Soebandi untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. tetapi korban menghembuskan nafas terakhirnya,” katanya.

Diketahui, korban mengalami luka bakar sekitar 95 persen di sekujur tubuhnya. Berdasarkan keterangan saksi Denok (25), teman korban yang berada di lokasi kejadian, Nurhayati sengaja membakar dirinya.

“Kemudian setelah peristiwa tersebut ia langsung dilarikan ke RSU Balung,” sambungnya.

Arief menambahkan, karena luka korban yang cukup parah ia dipindahkan ke RS Bina Sehat Jember. Terkait motif korban diduga membakar diri masih belum diketahui.

Sebelumnya, seorang perempuan menjadi korban kebakaran dalam kamar sebuah rumah milik Saiful (65) di Dusun Krajan, Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan. Diduga perempuan yang bernama Nurhayati ini, sedang melakukan uji coba bunuh diri. Karena sebelum kejadian kebakaran tersebut, korban yang juga anak pemilik rumah itu diketahui cekcok dengan ibunya.

Percekcokan itu terjadi, menurut Kanit Reskrim Polsek Wuluhan Aipda Sugiyanto saat dikonfirmasi terpisah, setelah membahas soal SPPT pajak rumah.

“Dari keterangan saksi, diduga korban ini melakukan (uji coba) bunuh diri dengan membakar diri dalam kamar,” kata Sugiyanto saat dikonfirmasi terpisah melalui ponselnya. (ark/tog/mzm)

 

Lanjutkan Membaca

Trending