Connect with us

Hukum & Kriminal

Kejari Jember Tangkap Buronan 10 Tahun Kasus P2SEM

Diterbitkan

||

Ahmad Fauzi Zamroni (kaos bergaris), buronan kasus P2SEM saat diperiksa di Kejari Jember sebelum dijebloskan ke Lapas Kelas IIA Jember
Ahmad Fauzi Zamroni (kaos bergaris), buronan kasus P2SEM saat diperiksa di Kejari Jember sebelum dijebloskan ke Lapas Kelas IIA Jember

Memontum Jember – Berakhir sudah petualangan Ahmad Fauzi Zamroni, salah satu buron paling dicari oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). Setelah bertahun-tahun melarikan diri akhirnya tertangkap pada, Selasa (11/08) pagi kemarin. Zamroni ditangkap oleh tim gabungan dari Pidsus dan Intelejen Kejari Surabaya dan dibantu Kejari Jember. Ia ditangkap tanpa perlawanan di rumahnya yang ada di Dusun Sumberan, Desa Karang Anyar, Kecamatan Ambulu, Jember.

“Dia buronan Kejari Surabaya, kita dari Kejari Jember hanya membantu menangkap,” ujar Kasi Intel Kejari Jember, Agus Budiarto, saat dikonfirmasi awak media pada, Rabu (12/08/2020).

Zamroni akhirnya dibawa pihak Kejari Jember ke Lapas Kelas II A Jember. Eksekusi dilakukan setelah Kejari Surabaya melakukan berbagai pertimbangan. Petugas gabungan kejaksaan membutuhkan waktu tiga hari untuk mengintai dan menangkap Zamroni di rumahnya. Zamroni menjadi buronan Korps Adhyaksa setelah Pengadilan Negeri (PN) Surabaya memvonisnya hukuman penjara 6 tahun, denda 50 juta subsider 4 bulan penjara dan membayar uang pengganti Rp. 415.000.000. Dia terjerat kasus Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Pemprov Jawa Timur yang berjalan pada tahun 2008 lalu.

Ironisnya alamat penangkapan Zamroni, sama persis dengan alamat yang diunggah di situs resmi Kejaksaan Agung (Kejagung). Dalam unggahan Kejagung sejak beberapa tahun lalu, tercatat Zamroni memiliki dua alamat. Yakni Dusun Sumberan RT 02 RW 03 Desa Karang Anyar, Kecamatan Ambulu atau Jalan Kebonsari Gang 5 No 20 Jambangan, Surabaya.

Pihak kejaksaan saat dikonfirmasi berdalih buronannya ini selalu berpindah-pindah tempat bahkan hingga kabur ke luar pulau Jawa. “Terakhir kami dapat informasi yang akurat, dia tinggal di sana (Ambulu) dalam waktu yang tidak terlalu singkat, sehingga kami tangkap. Dia tinggal di sana sendiri, dan tidak melawan saat ditangkap,” papar Agus.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Zamroni merupakan Ketua Lembaga Panitia Gerakan Kesehatan Surabaya, yang pada tahun 2008 mengelola dana P2SEM dari Pemprov Jatim ke belasan kampus dan sekolah. Pria yang berpendidikan terakhir S2 ini, bermitra dengan dr Bagoes Soetjipto Solyoadikoesoema, yang saat itu tercatat sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair).

Peran dr Bagoes dalam kasus ini karena pada tahun 2008 dia menjadi staf ahli DPRD Jawa Timur. Ketua DPRD Jawa Timur saat itu, Fathurrosjid juga terjerat kasus yang sama dan divonis hukuman 3 tahun penjara. Sedangkan Sekdaprov saat itu, Soekarwo, tak tersentuh dan kemudian terpilih menjadi gubernur Jawa Timur selama 2 periode.

Vonis hukuman berat diterima oleh dr Bagoes. Meski dalam persidangan ia disebut hanya sebagai operator yang memotong dana, dr Bagoes mendapat vonis hukuman 21 tahun 6 bulan penjara. Hukuman ini sebagai akumulasi dari vonis yang dikeluarkan terhadap dr Bagoes dari empat pengadilan negeri di Jawa Timur.

Dokter ahli penyakit jantung ini tidak bisa menyampaikan pembelaan diri karena keburu kabur ke Singapura dan Malaysia sehingga disidang secara in absentia. Setelah tertangkap, dr Bagoes mengaku diperintah untuk kabur ke luar negeri, namun dia tidak mau menyebutkan nama orang tersebut.

Kejaksaan Agung baru bisa menangkap dr Bagoes pada November 2017 di Malaysia. Usai ditangkap, dr Bagoes dikabarkan sempat akan buka mulut terkait keterlibatan nama-nama penting yang selama ini tak tersentuh. Saat itu, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sempat sesumbar akan mengembangkan kembali kasus dengan nilai proyek Rp 200 Miliar itu. Namun belum sempat buka mulut, dr Bagoes meninggal dunia pada Desember 2018, karena sakit. Ia meninggal saat menjalani masa hukuman di Lapas Porong, Sidoarjo. (vin/mzm)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Lerai Pertengkaran Cucu yang Menghajar Istrinya, Kakek di Jember Malah Terbunuh

Diterbitkan

||

Lerai Pertengkaran Cucu yang Menghajar Istrinya, Kakek di Jember Malah Terbunuh
TKP: Petugas saat melakukan olah TKP di rumah korban. (istimewa)

Memontum Jember – Ketenangan warga Kelurahan Keranjingan, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, terusik pada Minggu (09/05) tadi. Penyebabnya, seorang kakek yang teridentifikasi bernama Janu (75), meregang nyawa alias terbunuh saat melerai pertengkaran cucunya, AB (17) dengan istrinya.

Kapolsek Sumbersari, AKP Sugeng Prayitno, saat dikonfirmasi melalui telepon, membenarkan mengenai kejadian tersebut. Sang kakek atau Janu, meninggal setelah mencoba melerai dan sempat terlibat berkelahi dengan AB.

Baca juga:

Diceritakan Kapolsek, peristiwa bermula ketika AB minta makan kepada istrinya. Usai meminta makan, istri pelaku pun kemudian membuatkan makanan yang diminta. Hanya saja, sang istri membuat makanan mie instan.

Karena hanya dibuatkan mie, tersangka pun kemudian marah. Dengan alasan, mengapa yang disuguhkannya mie instan dan bukan masakan.

“Pelaku yang emosi, kemudian bertanya kepada istrinya yang saat itu berada di dalam kamar. Tujuannya, untuk bertanya kenapa bukan masakan. Sementara istri tersangka yang ditanya, justru menjawab karena belum masak,” kata kapolsek menirukan jawaban istri pelaku.

Mendengar jawaban istrinya, tambah Kapolsek, pelaku pun naik pitam dan masuk ke dalam kamar tidur, di mana istrinya berada. Pelaku ribut dengan istrinya di dalam kamar, yang ketika itu dikunci dari dalam.

“Istrinya (pelaku) dipukuli sama pelaku. Mendengar ribu-ribut dalam kamar, neneknya berusaha melerai. Namun, neneknya malah dipukul sama bambu oleh pelaku,” jelasnya.

Mendengar jerita istrinya, korban pun kemudian berusaha masuk ke dalam kamar dengan memecah jendela. Hanya saja, aksi itu tidak membuat pelaku berhenti. Antara pelaku dan korban, justru terlibat perkelahian.

“Korban yang terpancing emosinya, kemudian menjepit leher pelaku dengan kedua tangannya. Karena dipithing (dijepit) lehernya oleh korban, tersangka kemudian berusaha meronta lepas dari pithingan dengan menyikut perut korban sekuat tenaga. Namun nahas, korban kemudian terjatuh kebelakang dengan kepala terbentur dinding tembok, sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya,” jelas Kapolsek.

Masih menurut Kapolsek, terbunuhnya korban bukan karena kesengajaan oleh pelaku. Jadi, tidak sengaja untuk membunuh. “Terhadap kejadian itu, terhadap tersangka dan saksi-saksi, masih dilakukan pemeriksaan anggota,” tambahnya. (rio/sit)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Dosen Cabul Unej Ditetapkan Tersangka, Begini Reaksi Rektor Unej

Diterbitkan

||

Memontum Jember – Rektor Universitas Jember (Unej) akhirnya buka suara, terkait dengan penetapan status tersangka kepada salah satu dosennya yakni RH, atas dugaan pencabulan oleh Polres Jember. Melalui Humas Unej, Jumat (07/05) siang memberikan rilis keterangan Rektor.

Dalam rilis itu, Rektor Universitas Jember menghormati kewenangan penyidik Polres Jember, yang menahan RH, dosen yang tersandung masalah pidana pencabulan. Pasalnya, sangkaan penyidik Polres Jember tersebut, memang menjadi kewenangan penyidik sesuai dengan ketentuan hukum acara pidana yang berlaku.

Baca juga:

”Sejak awal mencuatnya kasus ini, Rektor Universitas Jember memang sudah memiliki perhatian besar untuk segera menuntaskan kasus ini. Bentuk perhatian tersebut, diantaranya adalah dengan membentuk tim pemeriksa atau tim investigasi internal Universitas Jember, untuk menuntaskan kasus ini dari aspek hukum disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS),” tulis Humas Unej dalam rilis yang diterima.

Bahkan, tambahnya, pihak Unej sembari menunggu tim investigasi tuntas menyelesaikan tugasnya, rektor juga telah membebaskan tugaskan sementara RH dari jabatannya sebagai koordinator Program Studi Magister Ilmu Adminstrasi di fakultasnya. Rektor Universitas Jember juga telah memerintahkan Dekan FISIP untuk segera mengambil alih tanggung jawab mata kuliah maupun pembimbingan tugas akhir (skripsi, tesis, disertasi) mahasiswa, yang sebelumnya dibimbing oleh RH.

Langkah ini diambil, ujarnya, agar tidak ada kerugian akademik terhadap keberlanjutan mata kuliah maupun tugas akhir yang saat ini tengah dikerjakan oleh mahasiswa. “Sejak RH ditetapkan sebagai tersangka, Rektor sudah memberikan instruksi kepada Dekan FISIP untuk tidak lagi memberikan bimbingan tugas akhir mahasiswa kepada RH. Sekaligus, supaya mata kuliah yang diajar oleh RH untuk diisi oleh tim pengajar lainnya. Dengan demikian, ditahannya RH tidak terlalu berpengaruh bagi mahasiswa yang tengah menempuh mata kuliah yang diajar oleh RH maupun tugas akhir yang dibimbing oleh RH,” ujarnya dalam rilis.

Secara internal, Rektor juga terus mendorong agar hasil pemeriksaan oleh Tim Investigasi atau Tim Pemeriksa Internal segera selesai agar dari aspek disiplin pegawai segera dapat dilakukan penindakan. Untuk diketahui saat ini Tim Investigasi atau Tim Pemeriksa Internal sudah memeriksa dan meminta keterangan dari banyak pihak dan tinggal menuntaskan beberapa pemeriksaan lagi. (rio/sit)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Dosen Cabul Universitas Jember Ditahan Polisi

Diterbitkan

||

Tersangka RH berbaju biru saat ditunjukan kepada awak media.

Memontum Jember – Polisi Resort Jember resmi menahan RH pelaku pencabulan yang berprofesi sebagai dosen. Polisi menetapkan RH karena cukup alat bukti.

Hal itu diungkapkan Wakapolres Jember, Kompol Kadek Ary Mahardika, saat rilis pada media di Mapolres Jember, Kamis (06/05) siang.

Baca Juga:

    Dosen di Universitas Jember (Unej) itu resmi mendekam di jeruji besi. Proses hukum akan berlanjut untuk melengkapi berkas dan dikirim ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember.

    “Korban adalah gadis berumur 16 tahun, yang tempat kejadian perkaranya dilakukan tersangka di rumahnya sendiri. Sementara Korban adalah keponakannya sendiri. Sejak kemarin sudah kami tahan. Berkasnya sudah kami lengkapi, dan kami kirimkan SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan) ke Kejaksaan Negeri Jember, ” kata Kadek saat menyampaikan rilisnya.

    Di depan penyidik tersangka mengakui berpura-pura akan melakukan pengobatan padahal hanya untuk memuaskan nafsu bejatnya.”Yakni dengan berpura-pura melakukan pengobatan terhadap korban,” katanya.

    Untuk mendukung pembuktian, polisi mengamankan baju tidur bergambar Doraemon milik korban, dan ponsel berisi rekaman suara percakapan antara korban dengan tersangka.

    “Dari bukti-bukti tersebut, oknum dosen di salah satu perguruan tinggi di Jember itu akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dan akan menjalani proses hukum berikutnya,” kata mantan Kasatlantas Polresta Banyuwangi itu.

    Kadek menyebutkan RH, mengaku mencabuli ponakannya sendiri sebanyak dua kali.

    “Yang keduanya sama-sama dilakukan di rumah tersangka sendiri. Kemudian untuk bukti rekaman percakapan, didapatkan dari aksi pencabulan kedua, yakni korban menaruh HPnya (ponsel) yang disembunyikan di bawah bantal. Dari bukti tersebut menguatkan perbuatan tindak pencabulan tersangka,” jelasnya.

    Pelaku akan dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 82 ayat (2) Jo Pasal 76E. Pelaku yang kandidat profesor ini terpaksa harus menghadapi ancaman hukuman 15 tahun penjara ditambah 1/3 dari ancaman.

    “Dengan ancaman hukuman minimal 5 Tahun penjara dan maksimal 15 Tahun penjara. Ancaman hukuman terhadap RH ini ditambah 1/3 dari ancaman (hukum yang ditetapkan), karena korban merupakan anak asuhnya sendiri,” terang Wakapolres Jember, Kompol Kadek Ary Mahardika. (rio/ed2)

    Lanjutkan Membaca

    Trending