Connect with us

Berita

Pengurusan SKU Diskop Jember Disusupi Tim Sukses Cabup

Diterbitkan

||

Warga yang menunggu antrian di Diskop Jember.

Memontum Jember – Proses pengurusan SKU (surat keterangan usaha) di Dinas Koperasi kacau balau. Penyebabnya adalah keberadaan sejumlah orang yang mengaku relawan menguasai proses pendaftaran SKU. Bukannya meringankan beban staf atau pegawai Diskop Jember, mereka malah menyepelekan staf kantor yang berada di Jalan Karimata, Jember. Kehadiran relawan tersebut ternyata atas perintah kepala dinas.

Menurut staf Diskop yang namanya enggan disebutkan namanya mengatakan, terkait pengajuan bantuan UMKM yang dilakukan, seperti pembuatan SKU sebenarnya semua sudah bisa ditangani oleh staf Diskop. ”Tidak perlu melalui relawan lah, kan sudah ada staf yang mau mengurusinya. tenaga kita sudah cukup dan bekerja secara maksimal. Itu anak buah Heru (salah satu tim sukses). Pak Kadis sepertinya sudah ada perjanjian dengan orang itu,” ujarnya serius.

Lebih jauh staf tersebut mengatakan, saat ini kantor Dinas Koperasi telah melayani dan menerbitkan ribuan SKU walaupun tanpa dibantu relawan. “Yang sudah terbit SKU kurang lebih 2000 lebih dan yang sudah terentri yang siap dicetak sekitar 4000. Setahu saya untuk pengajuan bantuan UMKM itu, mudah dan merupakan niat baik presiden untuk pemulihan ekonomi rakyat di masa pandemi (Covid-19) ini,” kata staf Diskop kepada memo x saat dikonfirmasi di Kantor Diskop dan UMKM Jember, Selasa(1/9/2020) siang.

Harapan dirinya terkait pengurusan SKU kalau bisa pihak luar jangan sampai untuk mengurusi juga dikarenakan semua staf masih mampu untuk bisa mengurusinya. “Jujur terkait relawan yang mengaku dapat mandat atau perintah dari kadis Diskop sangat tidak mengenakkan kepada semua staf, salah satu contoh kalau ada data yang hilang siapa yang mau tanggung jawab kalau melalui relawan. Terkait informasi kapan terakhir pengajuan bantuan tanggal 4 September,” imbuhnya.

Terpisah saat dikonfirmasi melalui telpon whatsApp, Kepala Diskop dan UMKM Jember Dedi M Nurahmadi mengakuinya. Dedi malah kemudian seakan menantang, dengan menanyakan kepentingan wartawan terkait kisruhnya pengurusan SKU akibat keberadaan relawan. ”Lalu hubungan dengan sampean apa?,” katanya. (vin/tog/mzm)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Keluarga TKI yang Meninggal di Malaysia Pasrah

Diterbitkan

||

Siti Fausiyeh (45), warga Dusun Krajan, Desa Lembengan, Kecamatan Ledokombo, yang juga seorang TKI asal Jember, meninggal di Malaysia, Senin (31/8/2020) kemarin.

Memontum Jember – Siti Fausiyeh (45), warga Dusun Krajan, Desa Lembengan, Kecamatan Ledokombo, yang juga seorang TKI asal Jember, meninggal di Malaysia, Senin (31/8/2020) kemarin. Wanita ini meninggal sekitar pukul 17.00 waktu setempat, karena menderita sakit yang menyebabkan perutnya membesar sejak November 2019 lalu.

Terkait hal ini, pihak keluarga sebelumnya sekitar 29 Juni 2020 kemarin sempat berkirim surat kepada Bupati Jember, Faida agar dapat membantu kepulangan Siti. Akan tetapi hingga TKI ini meninggal, menurut Ghufron Slamet anak dari Siti Fausiyeh, pihak keluarga belum mendapat tanggapan atau kabar dari bupati. “Memang sih pak camat kapan hari dah lama kapan itu pernah datang ke rumah adik saya, tapi ya hanya ngobrol biasa,” kata Ghufron saat dikonfirmasi di rumahnya, Selasa (1/9/2020).

Ia mengatakan, untuk soal status TKI yang dilakukan ibunya, diakuinya lewat jalur yang salah. “Saya memahami ibu saya berangkat TKI lewat jalur tidak resmi. Waktu itu ikut saudara-saudaranya. Tapi saya berharap sih saat itu ada perhatian dari pemerintah,” katanya.

Bahkan Ghufron sendiri yang melacak keberadaan ibunya saat menjadi TKI di Malaysia. “Alhamdulillah tahu alamatnya, dan juga ibu di sana menikah lagi dengan orang Lamongan. Tapi kemudian sakit, ya saya berharap bisa pulang agar dirawat anak-anaknya,” katanya.

Ghufron merasa kecewa dengan apa yang dialaminya. Namun, dia dan adiknya Siti Fauziyah hanya bisa pasrah. Terkait sakit yang diderita oleh ibunya, Ghufron awalnya menduga ibunya hamil. “Tapi kemudian diperiksa di rumah sakit sana, katanya kanker di perut. Tapi jelasnya bagaimana saya kurang paham, karena ngomongnya orang Malaysia kan cepat,” jelasnya.

Namun, Ghufron merasa kecewa karena sang ibu tidak semoat dirawat olehnya dan meninggal dengan kondisi sakit yang memperihatinkan. “Saat itu kalau bisa pulang mungkin bisa kita rawat. Tapi sekarang kondisi Covid-19, tambah susah mau pulang. Akhirnya kesepakatan keluarga, tadi malam telpon. Kita ikhlas ibu dimakamkan di Malaysia. Pasalnya jika terlalu lama dimakamkan menunggu pulang, kasihan ibu. Kita di Jember hanya bisa tahlilan dan mendoakan yang terbaik buat ibu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas tenaga kerja (Disnaker) Kabupaten Jember, Bambang Edi Santoso mengatakan, sudah menyampaikan surat ke Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia untuk bisa membantu kepulangan warga Jember yang sakit tersebut. “Surat itu kami kirimkan sekitar tanggal 4 Juni lalu. Tapi karena kebijakan dari Negara Malaysia, yang tidak bisa memulangkan warga Jember itu,” kata Bambang saat dikonfirmasi terpisah melalui Ponselnya.

Segala upaya apapun yang dialami tenaga kerja Indonesia sudah dilakukan olehnya. “Tetapi kebijakan di negara lain, beda dengan kita di Indonesia bahkan di Jember. Sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan juga menunggu dari kementerian tenaga kerja. Kami tidak kemudian berdiam diri atau menunggu, upaya apapun kami lakukan,” sambungnya. (ark/tog/mzm)

Lanjutkan Membaca

Berita

Kini Penumpang KA Jurusan Jember – Banyuwangi Tak Perlu Rapid Test

Diterbitkan

||

oleh

Calon penumpang tidak perlu menyiapkan dokumen rapid test sebagai syarat untuk bisa naik kereta
Calon penumpang tidak perlu menyiapkan dokumen rapid test sebagai syarat untuk bisa naik kereta

Memontum Jember – Kereta Api Pandanwangi Jember – Ketapang (Banyuwangi) kembali beroperasi sejak Minggu (8/8/2020) kemarin. Kereta Api (KA) Pandanwangi ini merupakan KA lokal pertama yang kembali beroperasi di masa pandemi Covid-19 di wilayah Daop 9 Jember.

Beda dari kereta api ini dengan kereta api jarak jauh. Calon penumpang tidak perlu menyiapkan dokumen rapid test sebagai syarat untuk bisa naik kereta.

“KA Pandanwangi penumpangnya tidak perlu menyertakan dokumen hasil rapid test atau swab test covid-19,” kata Manajer Humas PT.KAI Daop 9 Jember, Mahendro Trang Bawono saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (11/8/2020).

Penumpang cukup membeli tiket, kata Mahendro, kemudian menggunakan pakaian lengan panjang. “Juga jangan lupa masker, dan tentunya lolos uji suhu tubuh maksimal 37,3 derajat celcius,” sambungnya.

KA Pandanwangi kembali dioperasikan dengan rute dan jam keberangkatan yang sama layaknya sebelum pandemi Covid-19. Dalam sehari ada empat kali keberangkatan.

“Dua dari Jember dan dua lagi (berangkat) dari stasiun Ketapang Banyuwangi,” katanya.

Menurut Mahendro, beroperasinya kembali KA Pandanwangi berdasarkan dari evaluasi dan kebutuhan masyarakat terhadap angkutan KA. “Karena selama masa pandemi ini baru KA jarak jauh yang dioperasikan di Daop 9 Jember,” katanya.

Selain KA Pandanwangi, PT.KAI Daop 9 Jember juga kembali membuka KA Wijayakusuma pada 7 Agustus 2020 dengan rute Ketapang Cilacap dan sebaliknya. Mahendro menambahkan, untuk KA jarak Jauh persyaratannya tetap sama penumpang wajib menyertakan dokumen bebas covid-19 yang ditunjukan dari hasil swab test atau rapid test. (ark/tog/mzm)

 

Lanjutkan Membaca

Berita

Kritik Kebijakan Bupati di FB, Ketua PGRI Dipanggil Inspektorat

Diterbitkan

||

oleh

Ketua PGRI Jember Supriyono usai menjalani pemeriksaan di Inspektorat Pemkab Jember
Ketua PGRI Jember Supriyono usai menjalani pemeriksaan di Inspektorat Pemkab Jember

Memontum Jember – Akibat sering mengkritik kebijakan bupati Jember, Ketua PGRI Jember, Supriyono mendadak dipanggil oleh Inspektorat Pemkab Jember. Pria yang juga ASN di Pemkab Jember itu dipanggil karena postingannya berisi kritikan kebijakan bupati terhadap guru di media sosial facebook.

“Saya dipanggil terkait postingan di FB, yang ada kaitannya dengan perjuangan PGRI. Saya dipanggil dalam kapasitas saya sebagai Ketua PGRI, bukan kapasitas ASN. Sebab, untuk kepegawaian, saya tidak ada masalah meski saya sekarang ditempatkan di unit kerja yang jauh,” ujar Supriyono usai menjalani pemeriksaan di kantor inspektorat yang berada di komplek Pemkab Jember, Selasa (11/08/2020) siang.

Pemeriksaan berlangsung selama dua jam di dalam ruang inspektorat. Supriyono mengaku hanya diklarifikasi terkait postingan di akun pribadinya yang dianggap mengkritik kebijakan bupati Jember terhadap guru. Dalam pemeriksaan , pejabat yang memeriksa menunjukkan tangkapan layar postingan Facebook milik Supriyono.

“Saya membenarkan itu memang postingan saya, dan itu bisa bebas diakses oleh siapapun,” tutur mantan guru yang kini dimutasi ke kantor kecamatan tersebut.

Di akun pribadinya “Supriyono Pgri” Supriyono mempertanyakan sikap Pemkab Jember yang selama lima tahun terakhir, tidak pernah memberikan SK Kenaikan Pangkat untuk ribuan guru ASN yang ada di Jember. “Bahwa SK Kenaikan pangkat untuk guru itu kan hampir lima tahun tidak pernah terbit,” ujar Supriyono.

Sementara Bupati Jember, dr Faida seolah menjawab kritikan yang pada 3 Agustus 2020 lalu telah menerbitkan SK kenaikan pangkat untuk ribuan guru di Jember. Namun kembali, Supriyono melalui akun facebooknya, mengkritisi bupati karena yang diterbitkan bukan SK kenaikan pangkat.

“Saya tergelitik ketika bupati menyatakan beliau sudah tanda tangan seribu SK Kenaikan Pangkat untuk Guru. Ternyata, itu bukan SK Kenaikan Pangkat, tetapi SK Penetapan Angka Kredit (PAK). SK Kenaikan Pangkat dan SK PAK itu berbeda,” jelas Supriyono.

Selain menjalani pemeriksaan, Supriyono mengaku diminta untuk melengkapi bukti-bukti atas apa yang ia sampaikan di media sosial itu. Meski harus diperiksa inspektorat, Supriyono mengaku tidak gentar. Supriyono tetap akan kritis jika memang ada kebijakan pemkab yang dinilai merugikan guru.

“Saya harus melengkapi bukti terkait dengan apa yang saya sampaikan pada penyidik di Inspektorat. Saya siap dipanggil kapanpun,” ujar Supriyono.

Namun sebaliknya, ia juga akan mendukung jika kebijakan itu dinilai tepat bagi dunia pendidikan di Jember.

“Ya ini adalah konsekuensi yang harus saya tanggung atas amanah sebagai ketua PGRI. Kalau sebagai Ketua PGRI saya menyampaikan sesuatu yang berseberangan dengan pemerintah, itu adalah sebuah romantika bagi saya,” papar Supriyono.

Bahkan Supriyono mengatakan jika postingannya dipermasalahkan secara hukum dirinya akan melakukan perlawanan. ”Tapi tidaklah kawan-kawan (pemeriksa inspektorat) tahulah itu postingan saya sebagai Ketua PGRI,” katanya kembali menegaskan.

Untuk diketahui Bupati Jember, dr Faida pada 3 Agustus 2020 lalu memang menerbitkan SK Kenaikan Pangkat untuk ribuan ASN di Kabupaten Jenber. Menurut data ada 1.624 ASN Pemkab Jember, 924 diantaranya adalah untuk guru. Namun, sehari kemudian, banyak ASN mendatangi kantor Badan Kepegawain Daerah Kabupaten Jember (BKD). Penyebabnya banyak SK yang salah ketik. Beberapa diantaranya bahkan ada yang justru turun pangkat.

Kesalahan administrasi itu kini kini sudah diperbaiki oleh pemkab.

“Alhamdulillah, sudah diselesaikan oleh bupati. Sudah ada seribu guru yang telah menerima SK Kenaikan Pangkat, meski masih ada yang salah, tetapi paling tidak sudah cukup membuat teman-teman (guru) senang,” papar Supriyono.

Supriyono juga menegaskan, kritikan yang disampaikannya tidak memiliki maksud politis apapun. PGRI yang dipimpinnya tetap berfungsi sebagai organisasi profesi yang netral, meski Jember akan menghadapi Pilkada pada 9 Desember 2020 mendatang.

”PGRI tidak kemana-mana meskipun anggota kita ada dimana-mana. Harapan kita posting adalah untuk mendorong agar persoalan yang dihadapi guru itu bisa segera selesai. Jangan sampai tertunda-tunda. Karena itu kewajiban saya sebagai seorang ketua PGRI yang diberi amanat untuk mengawal perjuangan kesejahteraan guru,” pungkas Supriyono.

Sementara itu Kepala Inspektorat Pemkab Jember, Joko Santoso saat ditemui awak media saat keluar dari kantor inspektorat membenarkan adanya pemanggilan kepada Supriyono. Namun menolak berkomentar banyak.

“Maaf saya masih sibuk, ada acara. Iya benar (ada pemeriksaan Supriyono,” kata Joko sambil meninggalkan awak media. (vin/mzm)

 

Lanjutkan Membaca

Trending