SEKITAR KITA
Alokasi Subsidi Pupuk hanya 50 Persen, Petani di Jember Resah

Memontum Jember – Saat ini adalah masa panen jagung dan komoditas pertanian lainnya. Di tengah masa panen, sejumlah petani di Kabupaten Jember, siapa sangka mengaku masih resah.
Penyebabnya, bukan soal harga jagung. Namun, terkait alokasi pupuk subsidi. Yakni, petani hanya mendapatkan jatah pupuk bersubsidi sebanyak 50 persen dari alokasi kebutuhan mereka.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember, Jumantoro, mengatakan bahwa pembatasan alokasi pupuk yang diterima sangat mengganggu petani. Meskipun ada anjuran pemerintah agar para petani menggunakan pupuk non subsidi.
Baca juga:
- Launching Layanan Kesehatan Homecare, Komisi D DPRD Jember Apresiasi Inovasi Pemkab
- Bupati Jember Beri Relaksasi Pelaku Usaha dengan Penghapusan Denda Pajak
- Beasiswa Cinta Bergema Pemkab Jember Gelontorkan Rp 59 Miliar untuk Sasar 4.200 Mahasiswa dan Calon
“Kenapa resah? Ya tentunya kebutuhan itu (pupuk subsidi), antara alokasi dan realisasinya masih kurang. Tapi kondisi ini, tidak kemudian menyalahkan produsen, distributor dan kios,” ujar Jumantoro saat dikonfirmasi melalui ponselnya, Senin (25/10/2021) sore.
Pasalnya, lanjut Jumantoro, alur distribusi pupuk subsidi juga dinilai sudah sangat ketat dan baik pendistribusiannya. “Ruwetnya minta ampun ya. Tapi (tetap) kondisi saat ini alokasi pupuk subsidi ada pengurangan dari kebutuhan riil petani berkisar 40-50 persen, tentunya petani jadi resah dan gelisah,” sambungnya.
Dengan kondisi ini, kata pria yang juga petani di wilayah Kecamatan Jelbuk ini, pihaknya menerima jika harga pupuk subsidi mengalami kenaikan harga. “Tentunya dengan harga yang wajarlah (untuk pupuk subsidi itu). Tapi tentunya alokasi itu (harus) cukup,” ujarnya.
Diakui oleh Jumantoro, kondisi terbatasnya pupuk subsidi itu, dudah disesuaikan dengan data dari Rencana Definitif Kebutuhan Kelompoktani (RDKK). “Tapi meskipun sudah mengacu pada e-RDKK, masih kurang. Contohnya untuk komoditas jagung. Padahal kondisi riil jagung itu bisa sampai 6-8 kuintal, saat ini harga jagung bagus. Akhirnya banyak yang berlomba memupuk jagungnya,” ucap Jumantoro.
Hal inilah, tambahnya, yang menyebabkan kondisi alokasi pupuk subsidi dirasa masih kurang. Pihak nya pun berharap pemerintah lebih memperhatikan kondisi kebutuhan pupuk. “Dengan adanya program pupuk bantuan NPK dari pemerintah itu, okelah membantu petani. Kita berterima kasih sekali. Bahkan, kita juga berupaya untuk mengajukan pengajuan pupuk subsidi itu agar bisa menjadi update data di RDKK,” katanya.
Perlu diketahui, dari data yang dihimpun wartawan. Untuk pupuk jenis urea, dalam setahun petani di Jember mendapat subsidi kurang lebih 90 ribu ton. Namun kondisi saat ini, oleh pemerintah dikurangi menjadi kurang lebih 50 persen.
Contohnya, untuk realisasi dari Januari sampai 25 Oktober atau kurun waktu setahun, petani di Jember hanya mendapat kurang lebih 53.136 ton. Saat ini sudah terealisasi 46.584 ton atau 88 persen. Namun hal itu masih dirasa kurang oleh petani. (rio/gie)

Jember4 mingguRencanakan Pembangunan Pengolahan Sampah Modern, Bupati Jember Sidak TPA Pakusari
Jember3 mingguPemkab Jember dan DPRD Sepakati 5 Raperda Jadi Perda, Salah Satunya Tentang PPLH
Jember2 mingguAntisipasi Kekeringan, Pemkab Jember Siapkan Armada Tangki Air Bersih
Jember2 mingguJaga Tren Positif, Pemkab Jember Sukses Kendalikan Inflasi Daerah
Jember2 mingguTerus Tingkatkan Inovasi Pendidikan dan Ekonomi Kreatif, Bupati Jember Raih Dua Penghargaan dari Insan Media
Jember2 mingguGus Fawait Berikan Kepastian Masa Depan PPPK di Lingkungan Pemkab Jember
Jember1 mingguPemkab Jember Percepat Progres Pembangunan Kawasan Kuliner Jalan Kartini dan Jalan Gatot Subroto
Jember1 mingguPerkuat Sektor Pertanian Daerah, Bupati Jember Tinjau Saluran Irigasi di Desa Wonojati













