Jember

Dialog bersama Pelajar SMPN 1 Kencong dan Guru, Bupati Fawait Beri Pesan Penting

Diterbitkan

-

NON FORMAL: Bupati Fawait saat memberikan pendidikan non formal ketika dialog dengan pelajar. (pemkab for memontum)

Memontum Jember – Bupati Jember, Muhammad Fawaid, menegaskan salah satu penyebab tingginya Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI/AKB) di Kabupaten Jember, adalah karena tingginya angka pernikahan dini. Selain itu, untuk penyebab lainnya juga karena minimnya budaya literasi perkembangan kesehatan reproduksi.

Hal ini disampaikan Bupati Fawait, dalam Program Bunga Desaku, di hari kedua di Kecamatan Kencong, Sabtu (22/11/2025) tadi. Bupati Fawait dalam program lanjutan itu, menyempatkan diri ke SMPN 1 Kencong dan berdialog langsung bersama para pelajar. Di momen itu, bupati memberikan pemahaman pada kalangan pelajar agar menghindari pernikahan.

Dalam tatap muka tersebut, Bupati Fawait menyampaikan sejumlah pesan penting yang bukan hanya relevan bagi dunia pendidikan, tetapi juga berkaitan langsung dengan upaya jangka panjang Pemerintah Kabupaten Jember, dalam menurunkan angka stunting, AKI dan AKB. Di hadapan para siswa, guru, serta jajaran pendidik yang hadir, Bupati Fawait mengaku merasakan kebahagiaan tersendiri karena bertemu dengan sebuah komunitas guru yang tengah mengkampanyekan kegemaran menulis.

Menurutnya, gerakan seperti ini harus diperkuat karena membaca dan menulis merupakan fondasi penting dalam membangun generasi yang maju. “Saya bahagia hari ini melihat ada komunitas guru yang mengkampanyekan senang menulis. Guru saya dahulu pernah berkata, bahwa kalau ingin sukses, kita harus banyak membaca dan harus banyak menulis. Itu yang saya pegang sampai hari ini,” ujarnya.

Advertisement

Bupati juga menegaskan, bahwa pemerintah daerah melalui dinas terkait akan memberikan dukungan penuh bagi para guru maupun masyarakat yang memiliki minat dan potensi dalam bidang literasi, pengembangan karya tulis, hingga proses kreatif lainnya. Baginya, investasi pada kualitas sumber daya manusia tidak hanya dimulai dari penyediaan sarana, tetapi juga melalui penguatan budaya literasi.

Baca juga :

Namun, pesan literasi bukan satu-satunya hal yang digarisbawahi bupati, dalam kunjungan tersebut. Dirinya juga menyampaikan hasil diskusi dan konsultasi bersama para dokter, baik dokter spesialis kandungan maupun dokter anak, terkait faktor penyebab tingginya stunting dan kematian ibu serta bayi di Jember.

Salah satu temuan penting yang disampaikan, adalah tingginya angka kehamilan pada usia di bawah 21 tahun. Menurut para tenaga medis, usia ideal untuk hamil adalah antara 21 hingga 35 tahun.

Karena itu, Gus Fawait menjadikan pertemuan dengan para siswa SMP sebagai momentum untuk membuka wawasan sejak dini mengenai pentingnya perencanaan pernikahan dan kehamilan yang matang. “Acara hari ini menjadi ruang bagi kami untuk turun langsung ke sekolah, menyampaikan kiat belajar, sosialisasi program beasiswa dan yang paling penting mengingatkan bahwa jika kelak menikah dan memiliki anak, usia idealnya adalah 21 sampai 35 tahun. Ini bagian dari upaya jangka panjang kita untuk menurunkan angka stunting serta AKI dan AKB di Kabupaten Jember,” tegasnya.

Advertisement

Kunjungan ini sekaligus menegaskan, bahwa Program Bunga Desaku bukan hanya sebagai wadah temu warga, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan intervensi langsung yang bersentuhan dengan berbagai aspek pembangunan manusia. Pemerintah Kabupaten Jember berharap melalui pendekatan yang menyentuh langsung generasi muda, pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan literasi dapat tumbuh lebih kuat.

Berdasarkan data, angka permohonan dispensasi nikah (pernikahan dini) di Kota Tembakau di tahun 2024 mencapai 562 perkara. Angka ini sebenarnya lebih rendah jika dibanding tahun 2023 yang mencapai 1.362. (kom/rio/gie)

Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Trending

Lewat ke baris perkakas