Jember
Remaja Putri Jember Sukses Tembus Level Nasional dalam Pesona Batik Nusantara 2026

Memontum Jember – Seorang remaja putri asal Kabupaten Jember, Sireen Janitra Raisya Pramono (14), warga Kelurahan Kaliwates, Kecamatan Kaliwates, memiliki talenta di panggung nasional. Siswi yang saat ini duduk di bangku Kelas VIII SMP Negeri 3 Jember itu, baru saja menorehkan tinta emas dalam ajang pemilihan bergengsi berskala nasional, Pesona Batik Nusantara 2026, yang diselenggarakan di Jakarta.
Ajang Pesona Batik Nusantara sendiri, merupakan sebuah kompetisi tahunan tingkat nasional yang diinisiasi oleh Plor Management. Gelaran ini bukan kompetisi modeling biasa, karena mendapatkan dukungan serta fasilitasi resmi dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Dalam kompetisi yang diikuti ratusan perwakilan dari berbagai provinsi di Indonesia itu, Sireen Janitra sukses membuat dewan juri terpukau. Dirinya berhasil menembus jajaran 10 besar terfavorit, sekaligus menyabet gelar tertinggi sebagai The Winner (Juara Pertama) untuk kategori yang diikutinya. Keberhasilan itu, langsung menjadi buah bibir yang positif di lingkungan pendidikan dan Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Jember.
Bila menilik ke belakang, perjalanan karier Sireen di dunia modeling sebenarnya terhitung masih seumur jagung. Langkah pertamanya, baru dimulai pada September 2025. Guna mengasah bakat terpendamnya, Sireen bergabung dan menimba ilmu di dua lembaga pelatihan lokal, yaitu Jawin Academy dan Syam Modeling School Jember.
Di bawah bimbingan para mentor profesional lokal, Sireen diajarkan teknik berjalan (catwalk), pembawaan diri (attitude), hingga pemahaman mendalam tentang filosofi Wastra Nusantara, khususnya kain batik. Kerja keras dalam sesi latihan intensif selama beberapa bulan itu, akhirnya terbayar lunas di panggung ibu kota.
Ditemui dalam sebuah kesempatan santai, Sireen Janitra Raisya Pramono membagikan cerita perjuangannya kepada media. Dengan senyum ramah khas remaja, dirinya mengisahkan bagaimana harus pintar-pintar mengelola waktu sehari-hari agar kegiatan pemodelan tidak sampai mengganggu kewajiban utamanya sebagai seorang pelajar aktif di sekolah menengah pertama.
“Dunia modeling ini memang hal yang baru buat saya, baru mulai belajar serius sekitar September tahun lalu. Tantangan terbesarnya sebenarnya adalah masalah pembagian waktu. Di sekolah, jadwal belajar kelas VIII sudah mulai padat, ditambah lagi saya juga aktif di kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), ikut kegiatan ekstrakurikuler dan malamnya masih harus ikut bimbingan belajar atau Bimbel untuk persiapan ujian,” jelasnya, Selasa (19/05/2026) tadi.
Baca juga :
Untuk latihan modeling, biasanya diambil di akhir pekan atau sepulang sekolah jika tugas-tugas rumah sudah selesai. “Kuncinya memang harus disiplin dan tidak boleh menunda pekerjaan sekolah,” ujar Sireen Janitra.
Salah satu fakta menarik dari keberangkatan Sireen ke ajang nasional, adalah minimnya fasilitas akomodasi kelompok besar. Tidak seperti kontestan dari kota-kota besar lain yang umumnya didampingi oleh tim manajemen khusus, penata rias profesional, hingga pemandu sorak, Sireen berangkat ke Jakarta dengan sistem mandiri.
Sireen hanya ditemani oleh keluarga kecilnya, ayah, ibu dan saudaranya yang bertindak ganda sebagai manajer, penata busana, sekaligus pemberi dukungan moral terbesar di belakang panggung. Keterbatasan tim ini, justru memicu mental bertanding Sireen menjadi jauh lebih kuat dan mandiri di hadapan para kompetitor lainnya.
“Saat berkompetisi di Jakarta kemarin, suasananya sangat kompetitif dan sempat membuat saya grogi karena peserta dari daerah lain bagus-bagus dan tim pendukungnya besar. Tapi saya selalu diingatkan oleh orang tua untuk fokus saja memberikan yang terbaik di atas panggung,” urainya.
Keberhasilan Sireen ini, juga mendapat perhatian dan apresiasi dari pihak sekolah serta komunitas model di Jember. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember melalui perwakilannya, menyatakan bahwa kisah Sireen merupakan potret nyata dari anak muda Jember yang memiliki mental petarung. Kemampuannya membawa batik bermotif khas daerah ke panggung nasional, menjadi salah satu bentuk diplomasi budaya yang efektif untuk mengenalkan potensi industri kreatif Kabupaten Jember kepada khalayak luas di tingkat nasional.
Sementara itu, orang tua Sireen, yang selalu setia mendampingi di setiap langkah kompetisi, mengaku sangat terharu dengan pencapaian putri mereka. Sejak awal, pihak keluarga tidak pernah memaksakan Sireen untuk menjadi juara, melainkan hanya ingin memberikan ruang bagi sang anak untuk menyalurkan minat dan bakat positifnya secara terarah.
“Sebagai orang tua, kami hanya bisa memfasilitasi dan mendoakan apa yang menjadi minat positif anak. Melihat dia bisa membagi waktu antara OSIS, Bimbel dan modeling saja kami sudah bangga, apalagi sekarang bisa membawa pulang piala The Winner dari Kementerian Pariwisata. Ini murni hasil kerja keras dan ketekunananya sendiri yang mau mendengarkan arahan dari para mentor di Jawin Academy dan Syam Modeling,” urainya. (rio/gie/adv)

Jember4 mingguCiptakan Ekosistem Pendidikan Sehat, Dispendik Jember Sosialisasi Penerimaan Murid Baru
Jember3 mingguBupati Jember Lantik Achmad Imam Fauzi Sebagai Pj Sekda
Jember3 mingguLantik Direksi Perumda Perkebunan Kahyangan, Bupati Jember Harap Mampu Jadi Penggerak Ekonomi
Jember2 mingguBupati Jember Instruksikan Gerakan Pilah Sampah Mandiri dan Revitalisasi TPA Pakusari
Jember2 mingguBelasan Siswa di Kaliwates Diduga Keracunan Makanan MBG, Pj Sekda Jember Siap Tindak Tegas SPPG
Jember3 mingguPerkuat Layanan Publik, Pemkab Jember Rakor dan Bimtek bersama TP PKK dan Tim Posyandu dan Bunda PAUD
Jember3 mingguKonsisten Ajak ASN Olah Raga, Bupati Jember Tingkatkan Kebugaran dan Hilangkan Sekat Antar Jajaran
Jember4 mingguAtasi Sampah di Aliran Sungai Tegalsari, Muspika Ambulu Kolaborasi bersama Pemkab Lumajang dan Warga















